Mantan Gubernur DKI Jakarta yang sekaligus seorang akademisi pendidikan, Anies Baswedan menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Kuningan (UNIKU), Jawa Barat.
Ada yang menarik di sela-sela diskusi tersebut, dalam tayang di YouTube resmi Universitas Kuningan, seorang mahasiswa bernama Roy menyebut Anies Baswedan sebagai calon presiden tahun 2029.
“Selamat datang Bapak di kampus kita Universitas Kuningan, mungkin teman-teman hari ini bisa melihat sosok calon presiden nanti di 2029,” kata Roy disambut riuh tepuk tangan mahasiswa UNIKU.
Mahasiswa tersebut memuji salah satu misi Anies Baswedan di bidang pendidikan saat mencalonkan sebagai presiden tahun 2024 lalu. Meskipun, mantan Rektor Universitas Paramadina itu tidak terpilih menjadi Presiden periode 2024-2029. Dia meyakini, Anies akan memimpin Indonesia pada tahun 2029.
“Memang betul kemarin belum berhasil, tapi saya yakin dengan program-program beliau yang salah satunya yang sangat saya sukai di mana beliau mengutarakan pendidikan gratis. Hari ini kita belum mendapatkan hal tersebut tapi saya yakin nanti di 2029 kita akan mendapatkan hal tersebut. Terima kasih dan juga selamat kepada teman-teman yang sudah memilih program makan bergizi gratis,” ujarnya.
Roy mengatakan, kondisi Indonesia saat ini sangat membutuhkan bantuan pendidikan gratis untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Saya rasa lebih relevan hari ini itu di mana kita sangat membutuhkan salah satu program dari beliau terkait pendidikan gratis di mana hari ini kita sedang menggaung-gaungkan bahwasanya Indonesia akan mendapati posisi emas pada tahun 2045, tapi pada kenyataannya, faktanya hari ini kita tidak berada ataupun tidak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya kita hanya tetap sama,” terangnya.
Sementara itu, Anies menyampaikan bahwa pendidikan gratis adalah kebutuhan yang mendasar bagi setiap warga negara. Menurutnya, akses pendidikan erat kaitannya dengan bonus demografi
Pendiri Indonesia Mengajar itu menilai, jika jumlah penduduk usia produktif tidak terdidik maka tidak menjadi bonus demografi yang memberikan manfaat, sebaliknya akan menjadi beban demografis
“Kenapa? karena pendidikannya tidak terjangkau oleh semua. Kalau pendidikan biayanya tinggi, maka hanya anak-anak dari keluarga mampu yang bisa menuntaskan pendidikan. Itulah sebabnya negara yang harus investasi di pendidikan dari mulai pra-TK sampai perguruan tinggi, negara harus hadir,” ujar Anies. (kba)
