Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

10 Tahapan Upacara Galungan Dan Sejarah Perayaan Galungan

10 Tahapan Upacara Galungan Dan Sejarah Perayaan Galungan

Gamgado.com - Rahajeng Rahina Nyangra Galungan buat semua semeton dan sahabat yang merayakannya. Sebagai orang yang pernah tinggal di Bali, saat perayaan Galungan dan Kuningan merupakan saat-saat paling meriah di Bali. Pada periode Galungan hingga Kuningan tersebut, seluruh Bali akan bersolek dengan aneka macam penjor yang sangat indah. Kalau dulur-dulur semua main ke berbagai pelosok pulau Dewata, maka dulur-dulur akan menemukan keindahan di sepanjang jalan. Apalagi kalau rekan-rekan datang ke Ubud, pusatnya kebudayaan Bali.

Kebetulan pada periode 2016-2017 penempatan saya di Ubud, sehingga sangat terasa kemeriahannya. Jauh-jauh hari sebelum Galungan, warga bergotong-royong membuat penjor, menghias rumah, pura, bale banjar dan tentu pinggir jalan. Hari raya Galungan biasanya jatuh pada hari rabu, 2 x dalam setahun (kalender Bali hanya ada 6 bulan, dan setiap bulan terdiri dari 35 hari)) Tahun ini Galungan jatuh pada Rabu, 4 Januari 2023 serta Rabu, 2 Agustus 2023 dan Kuningan jatuh pada Sabtu, 14 Januari 2023 dan Sabtu, 12 Agustus 2023. Makna Galungan adalah kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

ALkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang raja lalim di Bali yang bernama Mayadenawa. Sang Raja memerintah dengan kejam. Semua rakyat diwajibkan menyembah dia. Tidak boleh ada yang menyembah para dewa. Barangsiapa yang melanggar, akan dibunuh. Alam pun membalas kejahatan sang raja dengan kekeringan dan kelaparan. Melihat hal itu, seorang Ida Pedanda bernama Mpu Sangkul Putih lalu bertapa di Pura Besakih memohon bantuan para dewa. Lalu turunlah Dewa Mahadewa dan memberikan wangsit agar sang Mpu pergi ke Jambu Dwipa (India) untuk meminta bantuan.

Maka datanglah pasukan Jambu Dwipa dan juga pasukan Kahyangan di bawah pimpinan Dewa Indra dan menyerbu Mayadenawa. Pertempuran berlangsung begitu dahsyat. Namun lama-kelamaan Mayadenawa kalah, dan dia berusaha kabur.

Di tengah pelariannya, Mayadenawa meracuni sebuah sumber air. Dan pasukan dewa Indra pun banyak yang mati saat meminum air beracun tersebut. Dewa Indra lalu menancapkan tongkatnya ke tanah dan menyemburlah mata air suci yang bisa menghidupkan kembali pasukannya. Lalu di situ dibangun Pura TIrta Empul yang artinya mata air yang menyembur.

Mayadenawa lalu berusaha mengelabui Dewa Indra dengan berjalan miring (daerah tersebut disebut Tampak (telapak) Siring (miring)). Lalu dia juga berubah menjadi seekor burung raksasa (manuk raya) yang lalu menjadi desa Manukkaya. Setelah kemenangan pasukan Dewa Indra, rakyat bersuka cita dan kemudian untuk memperingatinya, diadakanlah upacara Galungan sebagai wujud syukur kemenangan Dharma melawan Adharma.

Ada beberapa tahapan upacara Galungan, yaitu:

  1. Tumpek Wariga. Merupakan upacara penghormatan kepada tanah dan tanaman hidup. DIlakukan 25 hari sebelum Galungan.
  2. Anggara Kasih Julungwangi. Upacara membersihkan watak buta kala di diri kita dengan membersihkan area merajan (pura di masing-masing rumah). Dilakukan 15 hari sebelum Galungan.
  3. Buda Pon Sungsang. Saat ini warga melakukan ritual Nguncal Balung (membuang tulang) sebagai simbol membuang adharma. Dilakukan 7 hari sebelum Galungan
  4. Sugian Jawa. Dilakukan upacara untuk memohon kesucian dan kelestarian Bhuana Agung (alam semesta). Dilakukan 6 hari sebelum Galungan.
  5. Sugian Bali. Dilakukan upacara memohon kesucian dan keselamatan Bhuana Alit (diri sendiri). Dilakukan 5 hari sebelum Galungan.
  6. Penyekeban. Terjadi 3 hari sebelum Galungan. Inilah saatnya Bhuta Kala menggoda manusia untuk berbuat Adharma. Biasanya saat ini ibu-ibu akan memeram buah-buahan dan membuat tape sebagai simbolisasi menyekeb (menguatkan) diri sendiri.
  7. Penyajaan. Terjadi 2 hari sebelum Galungan. Merupakan saat dimana Bhuta Kala Dhungulan (bhuta kala terkuat) turun untuk menggoda manusia. Saat ini umat Hindu akan membuat Jaja (jajanan khas Bali terbuat dari ketan putih yang berbentuk bulat pipih) sebagai simbol nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat angkara)
  8. Penampahan Galungan. 1 hari sebelum Galungan. Umat melakukan berbagai persiapan banten, makanan, dan aneka keperluan upacara.
  9. Galungan. Umat melakukan sembahyang di Pura.
  10. Umanis Galungan. 1 hari setelah Galungan. Umat bersilaturahmi dan berjalan-jalan bersama keluarga.

Yukk rekan-rekan, sempatkan ke Bali saat periode Galungan-Kuningan.

Posting Komentar untuk "10 Tahapan Upacara Galungan Dan Sejarah Perayaan Galungan"